Tuesday, December 29, 2015

The Real Transformer

Heart is the source of our action, the source of our motivation. We might have plans in our brain, but then when our heart changes, the plans will also change. That’s how powerful our heart is.

However, a single sentence, or even a single phrase, that comes from an important person in our life can either make us fly to the highest sky or jump to the deepest cliff. That’s how fragile our heart is.

Thank God, His power and love goes far beyond the power and fragility of our heart. Our heart is so unreliable, we need something reliable to secure it. The perfect security comes from God, which we will receive when we accept Him as God in our heart. He will provide us the real peace that keeps us from being anxious despite our circumstances. That’s why I really love these verses:

“do not be anxious about anything, but in everything by prayer and supplication with thanksgiving let your requests be made known to God. And the peace of God, which surpasses all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.” Philippians 4:6-7

Peace of God is beyond any logic, it enables us to live without worrying about anything, by praying about everything.


God will also transform our fragile heart and enable us to change our bad habit and stop us from doing any more sins. The process might take a while, but as long as we keep God in the first place, keep having close relationship with Him, He will gradually renew us to be a better person every day.

Let’s embrace the peaceful and abundant life that He has provided for us.
Merry Christmas :)

Overflowing Love

Relationship with God is unlike any other relationship that we will ever encounter in this world. Why? Because God is love and there isn’t any single creature that can love like how God loves.

In relationship with other people, such as with our friends, family, parents, there will always be friction, imperfection, disappointment, because all of us are not perfect and we cannot love perfectly.

However, when we accept Him as God in our heart, He will enable us to love like how He loves. We cannot truly love other people using our own strength.


When we feel like we cannot love, cannot forgive, let’s ask Jesus to enable us to love and forgive like He does. He will empower us. Amen :)

Friday, April 3, 2015

Harapan Seorang Pejalan Kaki

Banyak orang beranggapan kalau jadi pejalan kaki di Indonesia itu sangat tidak enak. Banyak polusi, trotoar banyak yang rusak, dan bahkan masih banyak jalan yang memang tidak ada trotoarnya. Si pejalan kaki pun harus melipir-lipir di pinggir jalan, dengan rasa was-was sambil megangin tas erat-erat takut tiba-tiba ada copet naik motor lewat dan nyamber tasnya. Nah kalau untuk masalah polusi, sepertinya masih sulit ya mencari solusinya, berhubung kondisi angkutan umum saat ini belum nyaman, sebagian besar orang masih memilih memakai mobil pribadi. Semakin banyak kendaraan sama dengan semakin banyak polusi. Dan yang paling merasakan akibatnya adalah para pejalan kaki dan juga pengendara motor. Trotoar rusak, artinya butuh dana, tenaga, waktu, dan kerja sama pemerintah untuk memperbaikinya. Akan tetapi, ada satu aspek yang bisa dikendalikan oleh pejalan kaki sendiri tanpa membutuhkan dana, waktu, usaha, dan kerja sama pemerintah. Yang diperlukan cuma satu: niat. Aspek yang sangat sederhana itu adalah kebersihan. 

Salah satu hal yang paling membuat saya malas berjalan kaki adalah adanya pengalaman hampir terkena lemparan ludah orang di jalan. Mungkin orang itu sedang sakit batuk pilek, tapi bukankah ada penjual tisu di toko sebelah dan bahkan di angkutan umum juga sering ada penjual tisu? Tahukah dia kalau ludah yang dia lontarkan bisa berakibat menularnya penyakit ke satu keluarga, satu kantor, bahkan satu kompleks? Tahukah dia bahwa orang lain sungguh tidak berminat melihat ludahnya? Bahkan saya pernah melihat ada orang yang membuang ludahnya di angkot! Mengapa oh mengapaaa..... Kalau yang membaca tulisan ini masih ada yang suka meludah di pinggir jalan (apalagi gerakannya mendadak dan lontarannya cukup jauh), percayalah bahwa satu ludah yang kamu tahan untuk dibuang di tisu atau di toilet akan sangat menambah kebahagiaan orang di sekitarmu.

Pemandangan lain yang mungkin sudah biasa tapi tetap tidak mengenakkan saat berjalan kaki adalah adanya sampah-sampah yang berserakan di pinggir jalan. Satu kali, saya bahkan pernah melihat seorang ibu di angkot yang membuang bungkus minumannya di lantai angkot tanpa keraguan. Aaakkhhh dalam hati sih ingin banget marah-marah sama ibu itu. Sebenarnya hal yang cukup simpel sih menyimpan sampah bungkus makanan di tas sampai menemukan tempat sampah. Tasnya nggak akan jamuran juga sih kalo di dalamnya ada sampah nggak sampai sehari penuh. Tempat sampah saat ini mungkin memang belum banyak tersedia di jalan, tapi ingat lho jalan raya itu milik umum, stasiun itu fasilitas umum, yang dana pembangunannya diambil dari pajak semua orang. Kalau ingin Indonesia lebih maju, lebih bermartabat, lebih maju di bidang pariwisata, kita bisa mulai dari hal yang sangat-sangat mudah: tidak meludah sembarangan dan membuang sampah pada tempatnya.